Sabtu, 05 Mei 2012

4 MUTIARA


Berdasarkan hadis Rasulullah SAW : Empat macam mutiara manusia yang dapat hilang karena empat perkara lainnya (1) Akal dihilangkan oleh marah,(2) Agama dihilangkan oleh hasad(dengki),(3) Malu dihilangkan oleh tamak,(4) Amal sholeh dihilangkan oleh menggunjing.
اربعةٌ منْ جوارح الإنسان يزيلها بأربعة أشياء:العقل يزيلها الغضب, والدين يزيلها الحسد, والحياء يزيلها الطمع والعمل الصا يزيلها الغيبة.
1.     Akal dilangkan karena marah
Akal merupakan salah satu hidayah Allah yang diberikan kepada manusia. Dengan akal kedudukan manusia paling tinggi dan utama dibandingkan makhluq Allah lainnya. Dengan akal, manusia dapat membedakan yang baik dan buruk, yang benar dan salah, dapat membedakan yang membahayakan dan yang aman, Oleh karena pentingnya manusia menggunakan akalnya, dalam Al Qur’an sebanyak 13 kali Allah menegur manusia yang berpaling atas kekuasaan Allah dan tidak menggunakan akalnya dengan kalimat Afala Ta’qilun ( افلا تعقلون  ).
Akal sehat seseorang akan hilang apabila tidak dapat mengendalikan amarahnya. Dengan amarah, manusia tidak dapat membedakan yang baik dan buruk, dengan marah seseorang sulit membedakan yang bahaya dan tidak.
Para sarjana kesehatan telah mencatat bahwa 60 % dari penderita sakit jiwa, TBC dan darah tinggi adalah berasal dari orang yang mudah tersinggung. Dan ketiga penyakit itu akan mudah disembuhkan bila sipenderita menjauhi amarahnya.
Hadis Rasulullah SAW menyatakan; “Bukanlah orang kuat karena menang bertarung, tapi orang kuat ialah yang mampu menahan amarahnya”
ليس الشديد بالصرعة إنما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب (رواه البخاري ومسلم)
Hadis Rasulullah SAW lainnya: menyatakan Wahai Mu’awiyah jauhilah dirimu dari sifat amarah, sesungguhnya amarah itu merusak iman, sebagaimana jadam merusak madu”
يا معاوية إياك والغضب فإنّ الغضب يفسد الإيمان كما الصبر العسل (رواه البيهاقي وابن عساكر)
2.     Agama hilang karena hasud.
Hasud atau dengki adalah sikap batin yang tidak senang kepada orang lain yang mendapat kenikmatan, sekaligus mengharapkan hilangnya kenikmatan itu dari pemiliknya. Panyakit ini merupakan penyakit tertua, karena sejak manusia pertama ada dimuka bumi, penyakit ini sudah ada. Kita ingat peristiwa dibunuhnya Habil oleh Qabil (putranya Nabi Adam) karena sifat dengki.
Dalam AlQur’an telah diperingatkan oleh Allah:” Janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian orang lain lebih banyak dari sebagian yang lain”( Annisa 32)
وَلاَ تَتَمَنَّوْاْ مَا فَضَّلَ اللّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ
Firman Alloh dalam surah Az-zukhruf ayat 32:”Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.
أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضاً سُخْرِيّاً وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ ﴿٣٢﴾
Hadis Rasulullah SAW memperingatkan: Hasud itu memakan/menghilangkan kebaikan sebagimana api membakar kayu yang kering”(HR. Ibnu Majah)
الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الخطب
Berdasarkan sabda Rasulullah SAW boleh hasad terhadap dua hal yakni (1) terhadap seseorang yang mampu mengamalkan isi kandungan Al Qur’an siang dan malam (2) terhadap seseorang yang senantiasa menginfakkan dan bersedekah dari sebagian harta kekayaannya siang dan malam.
لا حسد إلا قي إثنين: رجل اتاه الله القران فهو يقوم به أناء الليل وأناء النهار, ورجل أتاه نالا ينفقه أناء الليل وأناء النهار (رواه الشيخان)
3.     Malu hilang karena sifat tamak( Thoma’)
Tamak adalah sikap batin yang menginginkan agar kenikmatan yang ada pada orang lain pindak kepada dirinya. Dengan kata  lain seseorang tidak merasa puas dengan apa  yang telah dimiliki. Bila kita perhatikan kata tama’ berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari huruf Tho (ditengahnya berlobang), huruf kedua Mim(ditengahnya juga berlobang), dan berakhir dengan Huruf ‘Ain (yang menganga). Dengan falsafah huruf-huruf tersebut, bahwa sifat thamak pada akhirnya tidak akan mendapat apa-apa kecuali penyesalan/sia-sia.
Dengan sifat Thoma’ seseorang tidak akan malu melakukan tindakan-tindakan yang melawan hokum agama dan negara, social kemasyarakatan dan keagamaan dan etika.
Hadis Nabi menyatakan : Al Haya’u minal Iman” (malu itu sebagian dari iman)
Hadis lain menyatakan” Al Haya’u la ya’ti illa bi khair’( Malu itu tidak datang kecuali dengan kebaikan) Maksudnya malu itu pasti mendatangkan kebaikan bagi seseorang.
Hadis lain menyatakan: “Sekiranya malu itu ada pada seseorang, pasti dia adalah orang yang sholeh. Sebaliknya bila sifat malu itu tidak ada pada seseorang dia termasuk orang tidak baik.
“Law kaanal hayaa’u rajulan lakaana rajulan sholuhan, walau kaanal fakhsyu rajulan    lakaana rajulan suu’an”
4.     Amal shaleh akan terhapus oleh gunjingan
Menggunjing adalah salah satu sifat jelek manusia dan dapat menimbulkan permusuhan. dan menghilang amal soleh.
Menggunjing(ghibah) adalah menyebutkan seseuatu yang ada pada seseorang, yang membuatnya tidak senang atau marah. “Zikruka akhaaka bima yakrahu”
Sesuatu yang diceritakan itu benar-benar terjadi atau tidak terjadi sama sekali keduanya termasuk menggunjing.
Sifat menggunjing termasuk sifat yang dapat menimbulkan bahaya dan dampak yang bahaya, Allah telah memperingatkan dalam surah Al Hujurat ayat 12”
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ ﴿١٢﴾
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”
Jadi dapat disimpulkan bahwa empat mutiara manusia berupa:
  1. Akal, yang menggambarkan pemikiran dan tindakan rasional seseorang akan hilang karena marah-marah, emosional;
  2. Agama, nilai-nilai agama yang ada para seseorang akan terabaikan karena sifat hasad dan iri-dengki, sehingga berusaha saling menjatuhkan dan merendahkan.
  3. Rasa malu, akan terabaikan karena faktor ketamakan akan harta dan jabatan, sehingga tidak pandang lawan-kawan, halal -haram, legal-illegal;
  4. Amal shaleh, akan terhapus atau tidak memiliki investasi apa-apa di sisi Alloh SWT karena faktor gunjingan yang sangat membahayakan rasa keakraban, persatuan dan persaudaraan. Dengan demikian Islam sangat mementingkan kedamaian dan keakraban dalam masyarakat.

Sholat 5 Waktu


Ali bin Abi Talib r.a. berkata, “Sewaktu Rasullullah SAW duduk bersama para sahabat Muhajirin dan Ansar, maka dengan tiba-tiba datanglah satu rombongan orang-orang Yahudi lalu berkata, ‘Ya Muhammad, kami hendak bertanya kepada kamu kalimat-kalimat yang telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa A.S. yang tidak diberikan kecuali kepada para Nabi utusan Allah atau malaikat muqarrab.’
Lalu Rasullullah SAW bersabda, ‘Silahkan bertanya.’
Berkata orang Yahudi, ‘Coba terangkan kepada kami tentang 5 waktu yang diwajibkan oleh Allah ke atas umatmu.’
Sabda Rasullullah saw, ‘Shalat Zuhur jika tergelincir matahari, maka bertasbihlah segala sesuatu kepada Tuhannya. Shalat Asar itu ialah saat ketika Nabi Adam a.s. memakan buah khuldi. Shalat Maghrib itu adalah saat Allah menerima taubat Nabi Adam a.s. Maka setiap mukmin yang bershalat Maghrib dengan ikhlas dan kemudian dia berdoa meminta sesuatu pada Allah maka pasti Allah akan mengkabulkan permintaannya. Shalat Isyak itu ialah shalat yang dikerjakan oleh para Rasul sebelumku. Shalat Subuh adalah sebelum terbit matahari. Ini kerana apabila matahari terbit, terbitnya di antara dua tanduk syaitan dan di situ sujudnya setiap orang kafir.’
Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rasullullah saw, lalu mereka berkata, ‘Memang benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakanlah kepada kami apakah pahala yang akan diperoleh oleh orang yang shalat.’
Rasullullah SAW bersabda, ‘Jagalah waktu-waktu shalat terutama shalat yang pertengahan. Shalat Zuhur, pada saat itu nyalanya neraka Jahanam. Orang-orang mukmin yang mengerjakan shalat pada ketika itu akan diharamkan ke atasnya uap api neraka Jahanam pada hari Kiamat.’
Sabda Rasullullah saw lagi, ‘Manakala shalat Asar, adalah saat di mana Nabi Adam a.s. memakan buah khuldi. Orang-orang mukmin yang mengerjakan shalat Asar akan diampunkan dosanya seperti bayi yang baru lahir.’
Selepas itu Rasullullah saw membaca ayat yang bermaksud, ‘Jagalah waktu-waktu shalat terutama sekali shalat yang pertengahan. Shalat Maghrib itu adalah saat di mana taubat Nabi Adam a.s. diterima. Seorang mukmin yang ikhlas mengerjakan shalat Maghrib kemudian meminta sesuatu daripada Allah, maka Allah akan perkenankan.’
Sabda Rasullullah saw, ‘Shalat Isya’ (atamah). Katakan kubur itu adalah sangat gelap dan begitu juga pada hari Kiamat, maka seorang mukmin yang berjalan dalam malam yang gelap untuk pergi menunaikan shalat Isyak berjamaah, Allah S.W.T haramkan dirinya daripada terkena nyala api neraka dan diberikan kepadanya cahaya untuk menyeberangi Titian Sirath.’
Sabda Rasullullah saw seterusnya, ‘Shalat Subuh pula, seseorang mukmin yang mengerjakan shalat Subuh selama 40 hari secara berjamaah, diberikan kepadanya oleh Allah S.W.T dua kebebasan yaitu:
1. Dibebaskan daripada api neraka.
2. Dibebaskan dari nifaq.
Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan daripada Rasullullah saw, maka mereka berkata, ‘Memang benarlah apa yang kamu katakan itu wahai Muhammad (saw). Kini katakan pula kepada kami semua, kenapakah Allah S.W.T mewajibkan puasa 30 hari ke atas umatmu?’
Sabda Rasullullah saw, ‘Ketika Nabi Adam memakan buah pohon khuldi yang dilarang, lalu makanan itu tersangkut dalam perut Nabi Adam a.s. selama 30 hari. Kemudian Allah S.W.T mewajibkan ke atas keturunan Adam a.s. berlapar selama 30 hari.
Sementara diizin makan di waktu malam itu adalah sebagai kurnia Allah S.W.T kepada makhluk-Nya.’
Kata orang Yahudi lagi, ‘Wahai Muhammad, memang benarlah apa yang kamu katakan itu. Kini terangkan kepada kami mengenai ganjaran pahala yang diperolehi daripada berpuasa itu.’
Sabda Rasullullah saw, ‘Seorang hamba yang berpuasa dalam bulan Ramadhan dengan ikhlas kepada Allah S.W.T, dia akan diberikan oleh Allah S.W.T 7 perkara:
1. Akan dicairkan daging haram yang tumbuh dari badannya (daging yang tumbuh daripada makanan yang haram).
2. Rahmat Allah sentiasa dekat dengannya.
3. Diberi oleh Allah sebaik-baik amal.
4. Dijauhkan daripada merasa lapar dan dahaga.
5. Diringankan baginya siksa kubur (siksa yang amat mengerikan).
6. Diberikan cahaya oleh Allah S.W.T pada hari Kiamat untuk menyeberang Titian Sirath.
7. Allah S.W.T akan memberinya kemudian di syurga.’
Kata orang Yahudi, ‘Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakan kepada kami kelebihanmu di antara semua para nabi.’
Sabda Rasullullah saw, ‘Seorang nabi menggunakan doa mustajabnya untuk membinasakan umatnya, tetapi saya tetap menyimpankan doa saya (untuk saya gunakan memberi syafaat kepada umat saya di hari kiamat).’
Kata orang Yahudi, ‘Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Kini kami mengakui dengan ucapan Asyhadu Alla illaha illallah, wa annaka Rasulullah (kami percaya bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan engkau utusan Allah).’
Sedikit peringatan untuk kita semua: “Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Surah Al-Baqarah: ayat 155)
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (Surah Al-Baqarah: ayat 286)

Sabtu, 28 April 2012

HAQ ILMU


HAKIKAT ILMU

Ilmu menurut pendapat ulama ialah perkataan-perkataan dan maknanya. Menurut Arif, Ilmu itu ialah mengetahui Asma-Asma dan objek-objek yang ditunjukkan oleh Asma itu. Di sini bermula asas dan dasarnya.

Ilmu itu tidak boleh dikaitkan dengan 'Adam kerana ia tidak ada. Ilmu hanya boleh dikaitkan dengan yang wujud sahaja. Yang tidak ada, tidak dapat dikaitkan dengan ilmu kerana yang tidak ada itu tidak dapat difikirkan dan tidak termasuk dalam akal dan tidak dapat disifatkan. Hakikatnya tidak ada, melainkan semata-mata nafi. Nafi semata-mata tidak dapat menghasilkan apa-apa (pada akal dan fikiran). Jika hasil apa-apa, maka jadilah wujud.

Adam tidak boleh wujud bila-bila masa pun kerana hakikat-hakikat tidak boleh berubah.
Jika anda periksa apa yang membisikkan pada diri anda dan apa yang ditanggap oleh Qalbu (Hati) anda dengan menafikan adanya sekutu bagi Allah, maka anda akan dapati bahawa tidak ada yang lain dalam diri anda kecuali Keesaan yang wujud.
Inilah pengertian ilmu mengikut ahli makrifat; mengetahui sesuatu yang boleh dikaitkan dengan yang wujud sahaja di mana yang wujud dalam makrifat mereka tidak memiliki sebarang analogi lain selain dirinya sendiri. Allah tidak memiliki analogi lain selain Diri-Nya Sendiri; dan Dia menyerupai Diri-Nya sendiri. Dia serupa itu dan Dia serupa Diri-Nya, kerana ia analog dengan Diri-Nya sendiri. Dia hanya seperti Diri-Nya dan hanya seperti dirinya. Peneguhnya adalah penopangnya dan penopangnya adalah peneguhnya. Ia bukan Dia dan Dia bukan ia. Dan tiada Dia kecuali ia dan tiada ia selain Dia. Tak ada makrifat selain Dia. Tak ada dia kecuali Dia.
Maka ahli makrifat adalah "seseorang yang melihat dan makrifat berada dalam dia yang tetap tinggal di dalam". Ahli makrifat tinggal dengan "tindakan mengenal" oleh kerana ia adalah pengenalannya. Pengenalannya adalah miliknya dan makrifat berada disebalik itu. Bentuk-bentuk masih lebih jauh lagi di seberang itu.
Cerita adalah urusan penutur cerita dan makrifat adalah urusan orang terpilih. Tindakan pura-pura adalah tindakan perseorangan bersama pelamun-pelamun sesat, dan tafakkur tinggal bersama dengan orang-orang yang murung manakala kelalaian bersama dengan orang-orang yang kebingungan.

Allah adalah Allah, Ciptaan adalah ciptaan.
Dan tak ada soal .
Sesungguhnya "Tidak ada perubahan dalam kalimah-kalimah Allah itu" (Surah Yunus:64)

JENIS-JENIS ILMU & BAHAGIAN-BAHAGIANNYA
Ketahuilah bahawa ilmu terbahagi kepada dua bahagian utama iaitu:
Ilmu Syari'i
Ilmu 'Aqli
Ilmu-ilmu Syari'iah adalah bersifat 'Aqliah bagi orang yang mengetahuinya dan kebanyakan Ilmu-ilmu 'Aqliah adalah bersifat Syari'iah bagi orang yang mengenalinya. ( Kenyataan di atas jika difahami ianya adalah untuk menunjukkan hubungan yang erat antara ilmu-ilmu Syari'iah dan ilmu 'Aqliah sebagaimana yang akan dinyatakan seterusnya.)
Firman Allah yang bermaksud;
"Dan sesiapa yang Allah tidak kurniakan nur kepadanya, nescaya tidak ada baginya nur."
(Surah Al-Nur : 40)

Bahagian Pertama (Ilmu Syari'ah)
Ilmu Syari'ah terbahagi kepada dua macam iaitu:

A. ILMU USUL (Umbi).
B. ILMU FURU'

A. ILMU USUL
Ilmu Usul (Umbi) ini terbahagi pula kepada tiga jenis iaitu Ilmu Tauhid , Ilmu Tafsir dan Ilmu Akhbar ( Hadis )

1. Ilmu Tauhid.
Ilmu ini membicarakan tentang zat Allah Taala, Sifat-sifatnya yang Qadimiah(Sediakala) Sifat-sifatnya yang Fi'liah(berupa perbuatan) dan Sifat-sifatnya yang Zaatiah(berupa Zat) yang berbagai-bagai nama menurut nama-nama sebagaimana yang tersebut.
Ia membicarakan tentang Nabi-nabi dan Imam-imam selepas mereka dan sahabat. Juga membicarakan tentang mati dan hidup,
membicarakan tentang Qiyamat, kebangkitan, perhimpunan di padang Masyar, kiraan amalan dan kelihatan Allah Taala.

Ahli-ahli fikir dalam ilmu ini berpegang pada:
* mula-mula sekali dengan ayat-ayat Al-Quran
* kemudian dengan hadis-hadis Rasulullah SAW.
* kemudian dengan dalil-dalil 'Aqliah dan bukti-bukti Qiyasiah
Mereka mempergunakan bahan-bahan qias perdebatan dan 'Anadi' (qias Pertentangan) dan hujungan-hujungan kedua-duanya yang diambil dari Logik(Mantik) Falsafah dan mereka meletakkan perkataan bukan pada tempatnya. Mereka mempergunakan istilah-istilah :-

Jauhar, A'radh, Dalil, Nazor (tilik) Istidlal dan Hujah, sedangkan berlainan makna tiap-tiap istilah ini bagi tiap-tiap golongan. Ahli-ahli Tasauf maksudkan suatu yang lain manakala ahli-ahli Ilmu Qalam maksudkan suatu yang lain pula. begitulah seterusnya. Bicara bapak ini tidaklah bermaksud untuk mentahkidkan makna tiap-tiap perkataan itu menurut pendapat tiap-tiap golongan. Oleh itu kita tidak akan bincangkan di sini.

Ahli-ahli fikir dalam usul dan ilmu tauhid yang mengambil bahagian khas ( dalam mengemukakan dan mempertahankan ilmu mereka) dengan "Qalam" atau "Kata-Kata" digelarkan "Mutakallimun" (ahli-ahli ilmu qalam). Oleh sebab ini ilmu tauhid terkenal juga dengan gelaran "ILMU QALAM".

2. Ilmu Tafsir.
Al-Quran adalah sesuatu yang paling agung dan paling penting dalam agama. Di dalam Al Quran terdapat kemusykilan yang tidak dapat diselesaikan oleh akal tiap-tiap orang selain dari orang yang dikurniakan oleh Allah Taala untuk memahami kitabnya. Dalam hal ini Rasulullah SAW ada bersabda yang bermaksud:

"Tiap-tiap ayat Al Quran itu ada sahaja zahir dan batin dan batinnya itu mempunyai tujuh lapisan pula"

Dalam suatu riwayat yang lain dinyatakan sebagai mempunyai sembilan batinnya.

Rasulullah bersabda lagi dengan maksudnya:
"Tiap-tiap huruf dari huruf-huruf Al-Quran mempunyai had.”
Maksudnya sama dengan 'Nihayah' yang bermaksud batas) dan tiap-tiap had mempunyai Mutholi'(tempat tinggi untuk meninjau). Allah Taala telah memberitakan dalam Al-Quran mengenai seluruh ilmu, segala maujudah yang nyata dan yang tersembunyi, yang kecil dan yang besar, yang dapat dirasa dan yang dapat difahami oleh akal. Ini ditunjukkan oleh firmannya yang bermaksud:

"Dan tidak ( gugur ) biji yang basah dan tidak kering melainkan terdapat dalam Kitab yang nyata".
(Surah Al-An'am, ayat 59).

Allah berfirman lagi yang bermaksud:
"Supaya mereka perhatikan ayat-ayatnya dan supaya ingat orang-orang yang mempunyai fikiran".(Surah Al-Shod, ayat 29).

Bila Al-Quran itu suatu yang paling agung, ahli-ahli tafsir manakah yang dapat keluar dari ikatannya?
Ya!, tiap-tiap dari ahli tafsir hanya dapat menghuraikan Al-Quran menurut tenaga sahaja, menerangkannya sekadar kekuatan akalnya dan menurut kadar isi ilmunya. Dengan kebolehan-kebolehan yang terbatas ini sekalian ahli tafsir itu berkata-kata sedangkan sebenarnya mereka patut berkata bahawa dalam ilmu Al-Quran itu terkandung :- Ilmu Usul dan Ilmu Furu', Ilmu Syarie' dan Ilmu 'Aqli.

Meskipun begitu ahli tafsir mestilah memandang Al-Quran dari segi bahasanya, dari segi perumpamaannya, dari segi susunan pengucapan, dari segi tingkat-tingkat nahu, dari segi 'adat Arab, dari segi pendapat hukamah-hukamah, dari segi perkataan ahli tasauf hingga dapat mendekatkan tafsirnya kepada tahkiq. Andainya tafsir itu cuma terbatas setakat suatu segi sahaja dan hanya memberikan keterangan menerusi suatu kepandaian sahaja, tidaklah keterangan itu memuaskan hati dan masih memberi peluang kepada hujah dan alasan dari orang lain untuk menentangnya.

3. Ilmu Akhbar (Hadis-hadis)
Bahawa Nabi SAW adalah orang Arab dan A'jam yang paling fasih, ia adalah guru yang diwahyukan kepadanya dari Allah Taala, akalnya adalah meliputi seluruh Alam Atas dan Alam Bawah, tiap-tiap perkataannya , malah tiap-tiap ucapannya terdapat disebaliknya lautan rahsia dan perbendaharaan teka-teki. Maka mengetahui Akhbarnya dan mengenali hadisnya adalah suatu soal yang besar dan suatu kerja yang hebat, sesiapa pun tidak berkuasa untuk menyelami ilmu perkataan Nabawi melainkan dengan cara ia membetulkan diri menuruti perintah-perintah Nabi SAW dan menghilangkan kebengkok-bengkokkan dari Qalbunya dengan pedoman syarak Nabi SAW.

Sesiapa yang ingin memperkatakan tafsir Quran dan Takwil Akhbar (Hadis) dan ingin supaya tepat kata-katanya, orang itu pada mula-mula sekali mesti menguasai Ilmu Bahasa, mendalami Ilmu Nahu dan mempunyai pengetahuan yang dalam bidang 'Irab (perubahan baris-baris akhir kalimah kerana faktor-faktor mendatang menurut Ilmu Nahu) dan pandai dalam berbagai-bagai Tasrik (kepandaian mengubah sesuatu kalimah yang asal menjadi bermacam-macam bentuk untuk pengertian-pengertian yang dikehendaki oleh seseorang),

Ini adalah kerana Ilmu Bahasa adalah tangga untuk mendaki kepada seluruh ilmu. Sesiapa yang ingin naik ke atas serambi rumah, lebih dulu ia perlu menyediakan tangga, kemudian baru mendaki, Ilmu Bahasa adalah jalan yang penting dan tangga yang besar ertinya. Seorang penuntut ilmu tiada dapat memisahkan dia dari hukum-hukum bahasa.
Oleh itu Ilmu Bahasa adalah asal segala asal. Yang mula-mula mesti diketahui dalam bahasa ialah mengenai bahan-bahan yang sama tarafnya dengan perkataannya sepatah demi sepatah kemudian mengetahui kata-kata perbuatan seperti kata-kata yang terdiri dari tiga huruf dan empat huruf dan lain-lainnya.

Seorang Ahli Bahasa mesti pula mengetahui syair-syair Arab, dan yang paling penting serta paling rapi ialah syair-syair jahiliah, kerana ia mengasahkan fikiran dan memperhaluskan jiwa. Selepas syair-syair, bahan-bahan (dari perkataan) dan nama-nama itu mesti menguasai ilmu nahu, kerana ia untuk ilmu bahasa serupa dengan timbangan dacing untuk emas dan perak, Manthiq untuk Ilmu Falsafah 'Arudh (Ilmu timbangan syair atau Ilmu Persajakan) untuk syair. Lengan untuk baju dan sukatan untuk biji-bijian. Tiap-tiap suatu tiada di timbang dengan timbangan yang tiada jelas padanya hakikat pertambahan dan pengurangan.
Oleh itu Ilmu Bahasa adalah jalan menuju kepada Ilmu Tafsir dan Akhbar(Hadis). Ilmu Al-Quran dan Akhbar adalah dalil bagi ilmu tauhid, manakala tauhid adalah ilmu yang hanya dengan dia sahaja baru terselamat para hamba dan dengannya mereka terlepas dari ketakutan hari kebangkitan kembali. Inilah Ilmu Usul secara perincian.

B. ILMU FURU’ ( Ilmu Cawangan)
Sesuatu ilmu itu boleh berupa 'Alami atau 'Amali. Ilmu Usul adalah ilmu yang berupa Ilmu 'Alami manakala Ilmu Furu' adalah ilmu yang berupa 'Amali.
Ilmu Amali ini mengandungi tiga hak :
1. Hak Allah Taala :
Ini adalah mengenai bahagian-bahagian ibadat seperti bersuci, sembahyang, zakat, haji, jihad zikir, perayaan-perayaan (Al-'Ayaad dengan makna pertama perayaan agama dan makna kedua pengulangan-pengulangan maksudnya Tajali-tajali yang berulang-ulang atas Qalbu dengan cara mengulangi amalan-amalan) perhimpunan (Jama'ah ), dan lain-lain amalan sunat dan fardhu.

2. Hak para hamba
Ini adalah mengenai bahagian-bahagian 'Aadat (kemasyarakatan) yang terbahagi kepada dua bidang:
I.   Mu'amalah (Pergaulan) seperti jual beli, syarikat, pemberian (Al-Hibah), pemberian pinjam dan hutang, Qishas dan segala bahagian Diyat (denda berupa wang dari kesalahan pembunuhan atau pencederaan).
II. Mu'aakodah(Perjanjian) seperti nikah, talak, pembebasan hamba, perhambaan, pembahagian pesaka dan segala hujungannya.
Dua bahagian yang tersebut di atas ini dinamakan 'FEKAH'. Ilmu Fekah adalah ilmu yang mulia, berfaedah, mengenai semua (manusia) lagi perlu. Tidak terlepas manusia daripadanya kerana keperluannya kepadanya adalah umum.

3. Hak Jiwa.
Hak jiwa ialah sesuatu yang berkaitan dengan Ilmu Akhlak. Akhlak itu kalau tercela wajib disingkirkan dan dibuang. Jika terpuji, wajib dipakai sebagai perhiasan segala jiwa. Akhlak yang tercela dan sifat-sifat yang terpuji memang terkenal dalam Kitab Allah dan hadis-hadis Rasulullah SAW. Sesiapa yang berakhlak dengan salah satu daripada sifat-sifat yang terpuji itu, ia akan masuk syurga.

ILMU ‘AQLI
Ilmu 'Aqli atau ilmu yang bermasaalah lagi musykil. Ilmu yang boleh berlaku SALAH atau BETUL. Ia terletak pada tiga tingkat iaitu:
Tingkat Pertama
Tingkat mula-mula, Ilmu Matematik dan Ilmu Logik(Mantik). Dari Ilmu Matematik lahir Ilmu Hisab yang membicarakan tentang angka-angka, geometri (ilmu ukuran-ukuran dan bentuk-bentuk), Ilmu Astronomi (berhubung dengan falak, bintang-bintang, kawasan-kawasan bumi dan apa-apa yang berhubungan dengannya). Terbit dari Ilmu Astronomi ini sebagai cawangannya ialah Ilmu Astrologi (Ilmu Nujum dan hukum-hukum dan Horoskop). Dari Ilmu Matematik itu lahir pula ilmu-ilmu muzik yang membicarakan tentang nisbah tali-tali alat bunyi. Ada pun ilmu logik adalah membicarakan tentang cara menentukan had (Al-Had ) dan Resam (Al-Resam) dalam sesuatu yang dapat dicapai dengan konsep (Tasawwur). Juga ia meninjau dari cara qias ( Al-Qias ) dan bukti ( Al-Burhan ) dalam ilmu-ilmu yang dicapai dengan pengakuan (Al-Tasdiq). Ilmu Logik berpusing di sekitar kaedah ini.

Bermula dari kata-kata tunggal,
kemudian kata-kata bersusun,
kemudian khasiat-khasiat,
kemudian qias,
kemudian bahagian-bahagian qias,
kemudian matlamat bukti (Mutholib Al-Burhan).
Inilah dia penghabisan Ilmu Logik.

Tingkat Kedua
Tingkat tengah ini ialah Ilmu Tabie. Ilmu Tabie ini ialah suatu ilmu yang membicarakan tentang Jisim Mutlak (Jisim semata-mata jisim yang terdiri dari benda dan rupa tanpa ikatan dengan mana-mana ruang. Di sini dibicarakan tentang pembahagian-pembahagian jisim, gerak, perubahan dan apa yang berhubung dengan gerak itu seperti zaman, ruang dan kosong) dan
Rukun-rukun Alam (membicarakan tentang langit-langit dan empat anasir yang berada daripada bahagian bawah falak bulan, tabiat-tabiat anasir itu dan lain-lain),
Jauhar-jauhar dan 'Aradh, Gerak dan Diam, tentang Hal Ehwal Langit, Sesuatu Yang Berupa Tindakan dan Kesan Tindakan.

Dari ilmu ini, lahir perbicaraan tentang:
Hal-ehwal Tingkat-tingkat Maujudah, Bahagian-bahagian Jiwa, Mizraj dan Kualiti Deria dan
cara pencapaiannya terhadap sesuatu yang dapat dicapainya.
Kemudian membawa kepada perbicaraan tentang ilmu kedoktoran iaitu ilmu mengenai badan-badan, penyakit-penyakit, ubat-ubat, pengubatan dan apa yang berhubung dengannya. Di antara cawangan Ilmu Tabie ialah:-

Ilmu Kesan-kesan Atas
Ilmu Benda-benda Galian
Pengetahuan Khasiat Benda dan berakhir pada Ilmu Perusahaan Kimia iaitu pengubatan jasad-jasad yang sakit pada bahagian-bahagian dalam benda-benda galian.

Tingkat Ketiga.
Ini adalah tingkat tertinggi yang membicarakan tentang MAUJUD kemudian membahagikan kepada "WAJIB"(tiap-tiap apa yang wujudnya dari zatnya sendiri bukan dari yang lain. Wujud yang begini keadaannya ialah wujud Allah, sebab inilah diistilahkan dengan "WAJIBAL WUJUD" ertinya "Yang Wajib Ada") dan "MUMKIN" (tiap-tiap yang wujudnya bukan dengan zatnya sendiri, malah bergantung dengan zat yang lain. Kalau tidak ada zat yang lain ini, maka ia tidak.

Wujudnya yang begini keadaannya adalah wujudnya makhluk. Sebab itulah makhluk diistilahkan dengan "MUMKINAL WUJUD"ertinya "Yang Mungkin Ada"). kemudian membicarakan tentang Penciptanya dan ZatNya, segala sifat-sifatNya, perbuatan-perbuatanNya, perintah-perintahNya, hukum dan qadaNya serta susunan kelahiran maujudah daripadaNya, kemudian membicarakan tentang sesuatu yang tinggi (Al-'Uluyah) Jauhar-jauhar Mufrad, Akal-akal Abstrak, dan Jiwa Yang Sempurna kemudian membicarakan tentang malaikat-malaikat dan syaitan-syaitan dan berakhir dengan Ilmu Nubuwah, soal-soal mukjizat dan hal-ehwal keramat, dan kemudiannya membicarakan hal-ehwal Jiwa-jiwa Suci, hal-hal tidur dan sedar dan maqam-maqam mimpi.

Di antara cawangan-cawangannya ialah :-
Ilmu Tillasmaat (Ilmu membuat tangkal atau azimat) dan Ziijaat (ilmu yang membicarakan tentang kedudukan falaniah-falaniah) dan apa yang berhubungan dengannya.
Ilmu-ilmu ini mempunyai perincian-perincian, lapangan-lapangannya dan tingkat-tingkatnya yang memerlukan ruangan yang lanjut. Tetapi sudah cukuplah dengan ringkasan ini.


TINGKAT-TINGKAT JIWA DALAM MENDAPAT ILMU
Ketahuilah bahawa ilmu-ilmu adalah terhunjam dalam seluruh jiwa manusia dan semuanya sesuai untuk menerima seluruh ilmu. Kalau suatu jiwa itu terluput dari mendapat habuannya, tidak lain hanya kerana suatu sebab yang mendatang, menimpa ke atas nya dari luar. Sebagaimana sabda Nabi SAW. yang bermaksud:
"Dijadikan manusia dalam keadaan suci, kemudian dirosakkan mereka oleh syaitan-syaitan".
dan sabdanya lagi yang bermaksud:
"Tiap-tiap yang dilahirkan adalah dilahirkan dalam keadaan semulajadi".
Jiwa berakal (Al-Nafsul Naathoqah) manusia memang layak untuk menerima pencaran jiwa keseluruhan (Al-Nafsul Kulliyah) di atasnya dan bersedia untuk menerima gambaran-gambaran yang dapat difahami oleh akal (Ma'quulah) dengan kekuatan kesucian aslinya dan kemurniaannya yang asal. Tetapi sebahagiannya menderita sakit dalam dunia ini diserang oleh berbagai penyakit yang menyebabkan tiada dapat mencapai hakikat-hakikat, manakala sebahagiannya masih dalam keadaan kesihatan yang asal tanpa sakit dan rosak dan sentiasa bersedia (untuk menerima ilmu) selagi masih hidup.
Jiwa-jiwa yang sihat ialah jiwa-jiwa Kenabian (Al-Nufus Al-Nubuwiyah) yang bersedia untuk menerima wahyu dan bantuan (pertolongann atau penguatan dari Allah), berkuasa untuk melaksanakan penyelongkaran dalam Ilmu kejadian dan kebinasaan, kerana jiwa-jiwa itu adalah kekal dalam kesihatan aslinya dan tidak berubah Mazrajnya oleh bencana penyakit. Oleh itu Anbiya' adalah menjadi para doktor-doktor jiwa dan menjadi para penyeru makhluk supaya menyucikan semulajadi akan diri mereka.
Ada pun jiwa-jiwa yang sakit dalam dunia yang hina ini terdiri dari beberapa tingkat:
1. Jiwa-jiwa yang sedikit sahaja dikesani oleh penyakit yang menimpa dan sedikit sahaja awan kelupaan menyeliputi lintasan-lintasan fikiran mereka. Mereka berusaha dalam pengajian dan mencari kesihatan asli. Dengan ini hilanglah penyakit mereka dengan pengubatan yang mudah. Tersingkaplah awan kelupaan mereka dengan hanya sedikit pengajian sahaja.
2. Jiwa-jiwa yang belajar sepanjang usia dan berusaha dalam pengajian itu. Mereka mencari kesihatan asli, maka hilanglah penyakit itu dengan pengubatan yang mudah dan tersingkaplah awan kelupaan mereka dengan hanya sedikit pengingatan.
3. Jiwa-jiwa yang belajar sepanjang usia, berusaha mendapatkan ilmu dan membetulkan dalam seluruh zaman mereka, sedangkan mereka tidak faham sedikit pun kerana rosak mazraj mereka, sebab mazraj ini bila rosak tidak akan dapat diubati lagi.
4. Jiwa yang mengingat dan lupa, cuba melatihkan diri (dengan beramal untuk mengembalikan ingatan itu) tetapi tiada berdaya. Mereka hanya mendapat Nur yang sedikit dan pancaran yang malap. Perbedaan-perbedaan ini timbul dari pengarahan jiwa-jiwa itu terhadap dunia dan tenggelam di dalam dunia ini menurut kuat dan lemahnya seperti orang sihat bila ia sakit dan orang sakit bila ia sihat. Bila masalah ini telah terurai, akan timbullah jiwa-jiwa itu dengan Ilmu Laduni dan akan mengetahui bahawa mereka memang Alim(mengetahui) pada awal semula jadinya dan murni pada permulaan ciptaannya. Sedangkan mereka menjadi jahil itu adalah kerana sakit yang dideritai ketika bersama dengan jasad yang tebal ini dan ketika tinggal dalam rumah yang kotor dan tempat yanng gelap.

Bahawa jiwa-jiwa itu belajar untuk mendapatkan ilmu yang tidak ada, bukanlah menciptakan akal yang luput, malah belajar itu adalah merupakan usaha jiwa-jiwa tersebut untuk mengembalikan ilmu asal lagi instintif (berdasarkan naluri bukan dihasilkan oleh taakulan atau ajaran) dan menghilangkan penyakit yang timbul dari pengarahan jiwa-jiwa itu kepada kekotoran jasad dan segala yang berhubung dengan kepentingan jasad.
Seorang bapa yang pengasih lagi penyayang kepada anaknya, bila ia mengarahkan perhatiannya kepada soal menjaga anak sahaja, ia akan lupa segala urusan yang lain dan masanya penuh dengan soal membicarakan anak sahaja. Begitu juga jiwa, kerana terlampau memperhitungkan kepentingan kerangka (jasad) ini dan tenggelam di dalam lautan tabiat dengan sebab lemah dan pengasingannya. Ia memerlukan pelajaran sepanjang usianya untuk mengingatkan kembali apa yang telah dilupakan dan untuk mendapatkan semula apa yang telah luput. Pengajian ini tidak lain dari hanya pengembalian jiwa kepada jauharnya dan pencungkilan apa yang berada dalam hati nurani kepada tindakan untuk menyempurnakan zatnya dan mencapai kebahagiannya.
Bila suatu jiwa telah lemah dan tidak dapat kembali kepada hakikat Jauhariahnya, hendaklah ia berguru pada seorang yang pengasih lagi Alim dan memohon pertolongan daripadanya supaya ia menolong dalam mencapai cita-citanya, seperti seorang sakit yang tidak tahu cara mengubati penyakitnya sedangkan ia berusaha menyembuhkannya. Ia terus menemui doktor yang pengasih, menerangkan hal dirinya dan meminta supaya mengubatinya.
Kita pernah menyaksikan seorang Alim menderita suatu penyakit yang tertentu seperti sakit kepala dan dada, menyebabkan lari ilmu dari jiwanya. Ia lupakan segala maklumatnya dan ingatannya terhadap segala apa yang didapatinya dulu menjadi keliru dan tertutup. Bila ia sihat kembali, hilanglah lupanya itu dan kembalilah jiwa mengingati maklumatnya, lalu teringatlah semula apa yang telah dilupainya semasa sakit.
Dari sini kita dapat mengetahui bahawa ilmu-ilmu itu tidaklah binasa, sebenarnya ia dilupakan. Perbezaan antara "Mahwun" artinya "sapu" dan "Nasyan" ertinya "lupa".
Sapu itu ertinya binasa ukiran-ukiran dan tulisan-tulisan, manakala lupa ialah kekeliruan di antara ukiran-ukiran dan tulisan-tulisan itu. Seperti awan yang mendung atau awan yang menutup sinar matahari dari pandangan orang bukan seperti jatuh matahari yang ertinya perpindahan matahari dari atas bumi menuju ke bawah bumi.
Perhatian penuh jiwa dalam pengajian bermakna menghilangkan penyakit dari jauhar jiwa supaya ia kembali kepada apa yang telah diketahui pada awal-awal semulajadi dan telah dikenalinya pada awal kesuciannya.
Bila anda telah mengetahui sebab dan maksud pengajian dan hakikat jiwa dan jauharnya, maka ketahuilah bahawa jiwa yang sakit adalah memerlukan pengajian dan pengorbanan usia dalam mendapatkan ilmu-ilmu. Ada pun jiwa yang kurang sakit dan sedikit sahaja penyakitnya, kecil merbahayanya, tipis awan mendungnya, sedangkan mazrajnya sihat; maka ia tidak memerlukan penambahan pengajian dan kepenatan yang lanjut. Malah dengan sedikit Nazhor(Tilik) dan fikir sudah cukup untuk memulihkan kembali asalnya, sampai kepada permulaan dan hakikatnya, melihat rahsia-rahsia jiwa dan mencungkil apa yang ada di dalam dari kekuatan kepada tindakan serta menjadikan apa yang tersembunyi di dalamnya sebagai pakaian untuknya.
Dengan ini lengkaplah dia dan sempurnalah keadaannya. Ia mengetahui banyak perkara dalam waktu yang singkat dan menggambarkan maklumat dengan teratur baik.
Ia menjadi Alim (mengetahui) sempurna lagi dicekapi (Mutakallimah: maksudnya dicapai dari sebelah hijab atau dengan kata lain, mendengar suara dari Alam Hakikat atau Alam Ketuhanan tingkat Wahdiah atau Al-Aqlul Kulli yang memberikan ajaran-ajaran).
Ia mengambil cahaya dari pengarahan terhadap Jiwa-Jiwa keseluruhan (Al-Nafsul Kuliyyah) dan Jiwa-Jiwa Keseluruhan ini pula melimpahkan cahayanya ke atas Jiwa Bahagian (Al-Nafsul Juz'ie). Kedua-dua jiwa ini hampir serupa keadaan dipandang dari segi kerinduan kepada asal. Ia (jiwa-jiwa yang kurang sakit) memutuskan urat-urat dengki dan umbi dendam dan meninggalkan keutamaan dan perhiasan-perhiasan dunia. Bila jiwa-jiwa telah sampai kepada tingkat ini, sesungguhnya ia telah mengetahui, selamat dan berjaya. Inilah yang dikehendaki untuk semua orang.

Manaqib Syaikh Abdul Qadir Al Jailani ra


Manaqib (biografi SHOHIH)
Syaikh Abdul Qadir Al Jailani ra

  
Beliau adalah seorang ulama besar sehingga suatu kewajaran jika sekarang ini banyak kaum muslimin menyanjungnya dan mencintainya.Sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syaikh Abdul Qadir Al Jailani sebagai wasilah (perantara) dalam do’a mereka. Karena tawasul adalah salah satu sunah nabi SAW….sebagaiman nabi adam bertawasul dgn nabi muhammad (lihat hadits qudsi)

Kelahirannya

Syaikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang ‘alim di Baghdad yang lahir pada tahun 490/471 H di kota Jailan atau disebut juga Kailan. Sehingga di akhir nama beliau ditambahkan kata Al Jailani atau Al Kailani atau juga Al Jiliy.

Pendidikannya

Pada usia yang masih muda beliau telah merantau ke Baghdad dan meninggalkan tanah kelahirannya. Di sana beliau belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthath, Abul Husein Al Farra’ dan juga Abu Sa’ad Al Mukharrimi sehingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama.

Dakwahnya

Beliau berdakwah lebih dari 25 tahun seorang diri, meninggalkan kampung halaman, berjalan dari kampung ke kampung, melintasi hutan, gurun pasir, sungai , menjumpai umat…mendakwahkan kalimat iman…. (lihat manaqib beliau) dalam perjalanan dakwah belaiu inilah banyak karamah2 yang diceritakan dalam kitab manaqib yang ditulis oleh murid murid belaiu yang terpercaya.

Suatu ketika Abu Sa’ad Al Mukharrimi membangun sekolah kecil di sebuah daerah yang bernama Babul Azaj dan pengelolaannya diserahkan sepenuhnya kepada Syaikh Abdul Qadir (setelah beliau kembali dari dakwah selama 25 tahun tsb). Beliau mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memeberikan nasehat kepada orang-orang yang ada di sana, sampai beliau meninggal dunia di daerah tersebut.

Banyak sudah orang yang bertaubat demi mendengar nasihat beliau. Banyak orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang ke sekolah beliau. Sehingga sekolah ini tidak kuat menampungnya. Maka diadakan perluasan.

Imam Adz Dzahabi dalam menyebutkan biografi Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A’lamin Nubala, menukilkan perkataan Syaikh sebagai berikut, “Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat.”

Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti Al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam. Ibnu Qudamah penyusun kitab fiqh terkenal Al Mughni.

kefahaman beliau sangat tinggi dalam ilmu agama, risau dan fikir belaiu untuk ummat yang sangat mendalam. membuat beliau sanggung mengorbankan harta dan dirinya untuk mendakwahkan agama Allah.

karamah2 yang allah berikan pada wali2 Allah dari kalangan umat ahir zaman, umat rasulullah saw adalah lebih dahsyat dari mukjizat nabi nabi zaman bani israil. Karena tugas umat nabi muhammad adalah sama dengan tugas nabi muhammad yaitu berdakwah kepada umat seluruh alam sampai hari kiamat. Maka wajar jika nusratullah yang Allah berikan lebih besar dari mukjizat nabi-nabi bani israil yang hanya berdakwah di satu kaum yaiutu kaum bani israil saja bukan untuk umat seluruh alam.

seperti kisah syaikh abdul kadir, dengan karamahnya beliau diganggu oleh iblis, belaiu terbang didepan murid2nya, menghidupkan orang mati didepan 3 pendeta nasrani shg tiga pendeta ini masuk islam (lebih hebat dari mukjizat nabi isa as).

Beliau memanggil burung yang sudah ia masak dan ia makan , dan burung itu hidup kembali. Beliau memnaggil burung tsb dgn membaca ayat ttg nabi ibrahim memanggil kembali burung yang sudah nabi ibrahim potong2 dan diletakan di atas gunung-gunung. Bnayk sekali karamah2 yang allah berikan padanya. Dan itu adalah mungkin dan tidak mustahil karena allah maha kuasa dan maha berkehendak.

Wafatnya

Beliau Wafat pada hari Sabtu malam, setelah maghrib, pada tanggal 9 Rabi’ul Akhir tahun 561 H di daerah Babul Azaj.

Pendapat Para Ulama tentang Beliau

Ketika ditanya tentang Syaikh Abdul Qadir Al jailani, Ibnu Qudamah menjawab, “Kami sempat berjumpa dengan beliau di akhir masa kehidupannya. Beliau menempatkan kami di sekolahnya. Beliau sangat perhatian kepada kami. Kadang beliau mengutus putra beliau Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Terkadang beliau juga mengirimkan makanan buat kami. Beliau senantiasa menjadi imam dalam shalat fardhu.”

Ibnu Rajab di antaranya mengatakan, “Syaikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh banyak para syaikh, baik ulama dan para ahli zuhud. Beliau memiliki banyak keutamaan dan karamah.

Ibnu Rajab juga berkata, “Syaikh Abdul Qadir Al Jailani memiliki pendapat yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, takdir, dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan sunnah. Beliau memiliki kitab Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, kitab yang terkenal. Beliau juga mempunyai kitab Futuhul Ghaib. Murid-muridnya mengumpulkan perkara-perkara yang banyak berkaitan dengan nasehat dari majelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang pada sunnah. “

Imam Adz Dzahabi mengatakan, “intinya Syaikh Abdul Qadir Al Jailani memiliki kedudukan yang agung”.

Imam Adz Dzahabi juga berkata, “Tidak ada seorangpun para ulama besar yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syaikh Abdul Qadir Al Jailani”

AQIDAH SYAIKH ABDUL QADIR JAILANI SAMA DENGAN AQIDAH IMAM ADZAHABI YAKNI MENAFIKAN TEMPAT DAN TEMPAT DAN ARAH…lihat kitab imam adzahabi , beliau tidak mensifati allah dengan sifat makhluq, tidak mensifati Allah dgn tempat dan arah, tidak mensifati allahn dgn sifat duduk, berdiri, berlari2 kecil dsb.
AL-HAFIZ AZ-ZAHABI KAFIRKAN AKIDAH: ALLAH DUDUK


AL-HAFIZ AZ-ZAHABI KAFIRKAN AKIDAH: ALLAH BERSEMAYAM/DUDUK

Oleh: Abu Syafiq ( Tel HP 006-012-2850578)

*Bersemayam yang bererti Duduk adalah sifat yang tidak layak bagi Allah dan Allah tidak pernah menyatakan demikian, begitu juga NabiNya.

Hakikat kebenaran tetap akan terserlah walaupun lidah syaitan Wahhabi cuba merubahnya.
Kali ini dipaparkan bagaimana rujukan utama Wahhabi iaitu Al-Hafiz Az-Zahabi sendiri mnghukum kafir akidah sesat: Allah Bersemayam/Duduk yang dipelopori oleh Wahhabi pada zaman kini. Az-Zahabi adalah Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Uthman bin Qaymaz bin Abdullah ( 673-748H ). Pengarang kitab Siyar An-Nubala’ dan kitab-kitab lain termasuk Al-Kabair.

Az-Zahabi mengkafirkan akidah Allah Duduk sepertimana yang telah dinyatakan olehnya sendiri di dalam kitabnya berjudul Kitab Al-Kabair. Demikian teks Az-Zahabi kafirkan akidah “ Allah Bersemayam/Duduk” :

Nama kitab: Al-Kabair.
Pengarang: Al-Hafiz Az-Zahabi.
Cetakan: Muassasah Al-Kitab Athaqofah,cetakan pertama 1410h.

Terjemahan.
Berkata Al-Hafiz Az-Zahabi:
“Faidah, perkataan manusia yang dihukum kufur jelas terkeluar dari Islam oleh para ulama adalah: …sekiranya seseorang itu menyatakan: Allah Duduk untuk menetap atau katanya Allah Berdiri untuk menetap maka dia telah jatuh KAFIR”. Rujuk scan kitab tersebut di atas m/s 142.

Perhatikan bagaimana Az-Zahabi menghukum kafir sesiapa yang mendakwa Allah bersifat Duduk. Sesiapa yang mengatakan Allah Duduk maka dia kafir.
Fokuskan pada kenyataan Az-Zahhabi tidak pula mengatakan “sekiranya seseorang itu kata Allah Duduk seperti makhlukNya maka barulah dia kafir” akan tetapi amat jelas Az-Zahabi terus menghukum kafir kepada sesiapa yang mendakwa Allah Duduk disamping Az-Zahabi menukilkan hukum tersebut dari seluruh ulama Islam.

:
Pemahamannya

Beliau seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup beliau. Beliau adalah seorang alim yang beraqidah ahlus sunnah mengikuti jalan Para Pendahulu Islam Yang Sholeh. Dikenal banyak memiliki karamah-karamah.

SYAIKH ABDUL KADIR MEMPUNYAI PEMAHAMAN AHLUSUNNAH WALJAMA’AH , BELIAU TIDAK MENGGUNAKAN MAKNA DHOHIR DALAM MENTAFSIR AYAT/HADITS  MUSTSYABIHAT. SMA SEPERTI AQIDAH IMAM MADZAB YANG 4. INI BISA DILIHAT DALAM KITAB SIRRULASRAR (RAHASIA ADRI YANG PALING RAHASIA. KEBOHONGAN WAHABI TENTANG PEMAHAMAN SAYIKH ABDUL KADIR DENGAN MEMALSUKAN KATA2 BELIAU DALAM KITAB ALGHUNYAH.

BERIKUT INI ADALAH RINGKASAN AQIDAH  BELIAU :

Aqaidul iman 50 ( Jawa: mu’taqot 50 ), yaitu kajian ilmu tauhid, sebagai dasar landasan utama pengenalan kepada Allah SWT, sebagai bahan masukan disini, bukan untuk membenarkan keyakinan saya dan menyalahkan yang lain atau sebaliknya, tapi sebagai tambahan ilmu, kalau dianggap baik, silahkan diambil, kalau tidak silahkan ditinggalkan, tidak ada paksaan, tidak ada judgment dan vonis.

Ilahi anta maqsudi, waridlaka matlubi
( Ya Allah, Hanya Engkaulah Tujuanku, dan hanya ridlamu yang aku harapkan )

Walillahil masyriqu wal maghribu, fa aynama tuwallu fatsamma wajhullah, Innallaha waasi’un ‘aliim ( QS al baqarah 115 )
( Dan kepunyaan Allah, belahan bumi timur dan barat, maka kemanapun tempat kamu menghadap, maka disitu engkau menghadap pada Dzat Allah, sesungguhnya Allah, Dzat yang maha luas dan Dzat yang maha mengetahui )

Awwalu wajibin ‘alal insani ma’rifatul ilahi bistiqani ( kitab az zubad, syeikh Ibnu Ruslan )
( Kewajiban paling awal, bagi setiap manusia adalah mengenal dan mengetahui Tuhannya dengan keyakinan yang jelas tanpa keraguan )

Bismillahirahmaniirrahiim

Aqaidul iman 50 ( Jawa : mu’taqot seket ; 50 )

Allah itu mempunyai sifat wajib,mustahil ( muhal ) dan sifat jaiz ( wenang )

Sifat wajib Allah ada 20 dibagi jadi 4 bagian
1. Sifat Nafsiyah
2. Sifat Salbiyah
3. Sifat Ma’ani
4. Sifat Ma’nawiyah

1. Sifat Nafsiyah
Sifat yang dinisbahkan kepada Allah yang maksudnya ada, yaitu sifat wujud
Sifat mustahil /lawannya ( muhal ) = adam, artinya tidak ada
Dalil : Allahulladzii khalaqas samaawati wal ardla wamaa baynahuma
( Yaitu Allah, Dzat yang menciptakan tujuh lapisan langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada diantaranya )


2. Sifat Salbiyah
Sifat yang digunakan untuk menolak sesuatu yang tidak patut untuk dinisbahkan kepada Allah. Ada 5 sifat yaitu : Qidam,Baqo,Mukhalafatu lil hawaditsi, Qiyamuhu binafsihi, Wahdaniyah
Qidam = sudah sedia ada ( adanya tidak didahului oleh tidak adanya)
Jawa: gusti Allah iku mesti disek disek i ora ono sing disek I, kari ora ono kang ngareni.
Dalil : huwal awwalu wal akhiiru
Huwa yaitu Allah, al awwalu, Dzat yang awal, wal akhiiru dan Dzat yang akhir
Sifat mustahil / lawan ( muhal ) qidam = huduts ( baru )

Baqo = kekal / tetap, tetap dan kekalnya tidak dari diam tidak dari gerak, sebab diam dan gerak itu pekerjaan makhluq
 jawa : tetep , tetepe ora songko obah ora songko meneng, sebab obah lan meneng iku penggawene makhluq

Dalil : Wayabqaa wajhu rabbika dzul jalaali wal ikraam (Ar Rohman27)
Wayabqaa, dan tetaplah kekal, wajhu rabbika ,dzat Tuhanmu Muhammad, dzul jalaali yang mempunyai sifat keagungan, wal ikraam dan sifat kemulyaan.

Sifat mustahil/Lawan ( muhal ) baqo = fana ( rusak / binasa )

Mukhalafatu lil hawaditsi = berbeda dengan segala sesuatu yang baru (makhluq).
Jawa: nulayani marang sekabehe barang kang anyar.
Perbedaannya yaitu tidak berbentuk ( ora jerem ), tidak berbadan ( ora jisim ), tidak seperti intan permata ( ora jauhar ), tidak ada rupa ( ora ‘arod ) tidak betingkat – tingkat ( ora juz ), tidak terbagi ( ora kul ), tidak ada dalam fikiran kita.
Dalil : laisa kamitslihi syaiun ( Asyuro 11 )
Laisa, tidak ada, yaitu kamitslihi seperti persamaanNYa Allah, Syaiun dari segala sesuatu

Sifat mustahil / lawan ( muhal ) = mumtsalatu lil hawaditsi ( sama dengan yang baru )

Qiyamuhu binafsihi = Berdiri diatas Dzatnya sendiri
Sifat mustahil / lawan ( muhal ) = Ihtiyaju lighairihi, artinya mustahil jika Allah butuh tempat kepada sesuatu selainNya

Dalil : Innallaha La ghaniyyun ‘anil ‘alamin ( al ankabut : 6 )
Innallaha, sesungguhnya Allah, la ghaniyyun, nyata dzat yang maha kaya/tidak butuh apapun, ‘anil ‘alamiin, kepada semua alam
( tidak butuh tempat, tidak butuh waktu, tidak butuh apapun )

Wahdaniyah = Allah itu Dzat Esa / satu yang hakiki
( jawa : Gusti Allah iku mesti siji kang hakiki )
Esa Dzat, tidak kamuttasil, tidak kammunfasil
Esa sifat, tidak kamuttasil, tidak kammunfasil
Esa perbuatan, kamuttasil wajib, tidak kammunfasil
( jawa : siji Dzate, kamuttasil ora, kammunfasil ora
siji sifate, Kamuttasil ora, kammunfasil ora
siji panggawene, kamuttasil wajib, kammunfasil ora )

Esa Dzat, tidak kamuttasil artinya Dzat Allah itu tidak seperti bilangan yang dapat disebut seperti bulu, kulit otot, daging, tulang, sum sum, bukan itu.
Tidak Kammunfasil artinya : Dzat Allah itu tidak memakai bilangan yang pisah – pisah seperti jari tangan, jari kaki, bukan itu.

Esa sifat, tidak kamuttasil artinya sifat Allah itu tidak seperti warna yang dapat disebut merah, hijau, kuning, putih, hitam, biru dan seterusnya, bukan itu Esa sifat, tidak kammunfasil artinya sifat Allah itu tidak seperti bilangan yang dapat dipisah pisah seperti tangan, kaki bukan itu.

Esa perbuatan ( jawa: siji panggawene ) kamuttasil wajib artinya perbuatan Allah itu pasti dapat ditemukan pada ciptaanNya
( jawa : Panngawene Gusti Allah iku mesti tetemu marang gawenane )

Esa perbuatan, tidak kammunfasil artinya Mustahil jika Allah itu sampai terpisah dengan perbuatan atau ciptaanNya

Sifat mustahil / lawan dari sifat Wahdaniyah = Muhal Ta’addud artinya mustahil jika Allah itu sampai memakai bilangan, seperti satu dalam artian bilangan

Dalil : Qul Huwallahu ahad
Qul; katakanlah Muhammad, Allahu yaitu Allah, itu Ahadun satu yang hakiki ( jawa: siji ngijeni kang hakiki )


3.  Sifat Ma’ani :
Artinya Allah sebelum menjadikan langit bumi seisinya ini, maka Allah sudah memiliki sifa Ma’ani yaitu Allah sudah kuasa, sudah berkehendak, sifat ma’ani ada 7 yaitu : Qudrat, Iradah, ‘Ilmu, Hayat, Sama’ , Bashar, Kalam

Qudrat = Kuasa
Sifat mustahil / lawan ( muhal ) = ‘Ajzun artinya Lemah ( jawa: apes )
Dalil : Innallaha ‘ala kulli syain qadiir ( Qs Albaqarah 20 )
Innallaha, sesungguhnya Allah, ‘ala kulli Syain diatas segala sesuatu, Qadiruun, Kuasa

Iradat = Allah itu mempunyai kehendak / Berkehendak
Sifat Mustahil/lawan (muhal) = Karohah artinya Mustahil kalau sampai Allah itu terpaksa menuruti kehendak Makhluq ( jawa: kasereng )
Dalil : Fa’aalul lima yuriidu ( Qs Al buruj 16 )
( Dzat yang banyak mencipta segala sesuatu menurut kehendakNya )

‘Ilmu = Allah Maha mengetahui ( Jawa : Ngudaneni )
Sifat Mustahil / lawan ( muhal ) = Jahlun artinya, mustahil jika Allah itu bodoh
Dalil : Innallaha ‘alimun bidzaatish shuduuri ( Qs Al Imron 119 )
Innallaha, sesungguhnya Allah, ‘aliimun, Dzat yang maha mengetahui, bidzaatish shuduuri, diatas orang – orang yang memiliki beberapa macam keadaan hati
 jawa: Setuhune Gusti Allah iku ngudaneni kelawan wong kang anduweni piro – piro ati)

Hayat = Allah itu maha hidup, hidupNya tidak pakai nyawa, tidak pakai sukma
Sifat mustahil / lawan ( muhal ) = Mautun artinya mustahil jika Allah sampai mati.
Dalil : Watawakkal ‘alal hayyilladzii laa yamuutu ( Qs Al Furqan 58 )
Watawakkal, dan bertawakal/pasrah lah engkau Muhammad, kepada Hayyilladzii, Dzat yang maha hidup, laa yamuutu, yang tidak akan mati.

Sama’ = Allah Maha mendengar, mendengarNya tidak pakai telinga ( Jawa : ngerungu, ngerungune ora nganggo kuping )
Sifat mustahil/lawan ( muhal ) = Shomamun, artinya mustahil jika Allah itu tuli
Dalil : Innallaha Samii’un ‘aliim ( Qs Al Imron 34 )
Innallah, sesungguhnya Allah, itu Samii’un, Dzat yang maha mendengar, ‘aliimun dan Dzat maha mengetahui.

Bashar = Allah Maha melihat, melihatNya tidak pakai mata ( Jawa: Gusti Allah iku mesti ningali, ningalane ora nganggo meripat )
Sifat mustahil/lawan ( muhal ) = ‘Umyun artinya mustahil jika Allah buta
Dalil : Wallahu bashiirun bimaa ta’maluna ( Qs Al Hujurat 18 )
( Dan Allah itu Dzat yang maha melihat atas segala sesuatu perbuatan yang kamu lakukan )

Kalam = Allah itu maha berfirman ( berkata – kata ) berkata –katanya Allah tidak pakai suara dan aksara (jawa: Gusti Allah mesti dawuh, dawuhe ora nganggo suoro, ora nganggo aksoro )
Sifat mustahil / lawan ( muhal ) = bukmun artinya mustahil jika Allah itu dzat yang bisu
Dalil : Wakalamallahu Muusa takliiman
Wakalamallahu, dan telah berfirman / berbicara Allah, Muusa kepada nabi Musa, takliiman dengan sebenar – benar berbicara / berfirman.


4.  Sifat Ma’nawiyah :
Setelah menjadikan langit bumi sesisinya, Allah mempunyai sifat ma’nawiyah artinya Allah itu Yang Kuasa, Yang berkendak dan seterusnya, sifat ma’nawiyah ada 7 yaitu : Qadiran, Muridan, Aliiman, Hayyan, Samii’an, Bashiiran, Mutakalliman.

Kaunuhu Qadiran = adanya Allah itu Dzat yang Kuasa
Sifat mustahil / lawan = ‘Ajizan artinya mustahil Allah dzat yang lemah
Dalil = sifat qudrat

Kaunuhu Muriidan = adanya Allah itu dzat yang berkehendak
Sifat mustahil / lawan = Karihan artinya mustahil Allah dzat yang tidak berkehendak ( menuruti kehendak makhluq )
Dalil = dalil sifat iradat

Kaunuhu Aliiman = Adanya Allah itu Dzat yang maha mengetahui
Sifat mustahil / lawan = Jahilan artinya mustahil Allah dzat yang bodoh
Dalil = dalil sifat ‘ilmu.

Kaunuhu Hayyan = adanya Allah itu dzat yang maha hidup
Sifat mustahil / lawan = mayyitan artinya mustahil Allah dzat yang mati
Dalil = dalil sifat hayat.

Kaunuhu samii’an = adanya Allah itu dzat yang maha mendengar
Sifat mustahil / lawan = Ashomma artinya mustahil Allah dzat yang tuli
Dalil = dalil sifat sama’

Kaunuhu Bashiiran = adanya Allah itu dzat yang maha melihat
Sifat mustahil / lawan = a’ma artinya mustahil Allah dzat yang buta
Dalil = dalil sifat bashar.

Kaunuhu Mutakalliman = adanya Allah itu dzat yang maha berbicara
Sifat mustahil / lawan = Abkama artinya mustahil Allah dzat yang bisu
Dalil = dalil sifat kalam.

Sifat Jaiz ( kewenangan ) Allah ada satu dijabarkan jadi 5, ditambah sifat mustahilnya 5 jadi 10 :

1)      Allah menjadikan langit bumi seisinya kewenangan Allah, mustahil jika Allah menjadikan langit bumi seisinya wajib
2)      Allah menjadikan langit bumi seisinya tidak berharap manfaat, mustahil jika berharap manfaat
3)      Allah menjadikan langit bumi seisinya, langit bumi seisinya ini tidak punya daya kekuatan, mustahil jika punya daya kekuatan
4)      Allah menjadikan langit bumi seisinya, langit bumi sesisinya tidak punya daya watak / sifat
5)      Allah menjadikan langit bumi seisinya ini baru, mustahil jika qidam

Aqaidul iman 50 dibagi jadi 2 yaitu :
1. Istighna’
2. Iftiqar

Istighna’ angkullima siwaahu artinya Allah itu maha kaya, tidak butuh sesuatu selainNya, sifatnya ada 28 ( termasuk sifat wajib, mustahil dan jaiz ) yaitu : wujud, qidam,baqa, mukhalafatu lil hawaditsi, qiyamuhu binafsihi, sama’, bashar, kalam, samii’an, bashiiran, mutakalliman ( 11 ) , sifat mustahilnya 11, jadi 22,
sifat jaiz 3 ( yaitu no 1- 3 diatas ) ditambah mustahil jaiznya 3, jadi 6
22 ditambah 6 = 28

Istighna’ sendiri dibagi menjadi 5
1)      Istighna’ fa’il : Allah maha kaya, tidak butuh pada perbuatan ( jawa: ora butuh
marang gawe ) sifatnya yaitu : wujud, qidam, baqa, mukhalafatu lil hawaditsi
2)      Istighna’ mahal : Allah maha kaya, tidak butuh pada tempat, sifatnya yaitu qiyamuhu binafsihi
3)      Istighna’ mukammil : Allah maha kaya, tidak butuh pada sesuatu yang menyebabkan sempurna, sifatnya yaitu sama’ bashar, kalam, samii’an, bashiiran, mutakalliman
4)      Istighna’ maf’ul : Allah maha kaya, tidak butuh pada ciptaanNya, sifatnya sifat jaiz no 1 dan 2, ditambah sifat mustahil dari sifat jaiz tersebut.
5)      Istighna’ washitoh : Allah maha kaya, tidak butuh pada lantaran, sifatnya sifat jaiz no 4 ditambah sifat mustahil dari sifat jaiz tersebut.

Iftiqar kullima ‘adaahu ilahi : setiap sesuatu selain Allah pasti butuh pada Allah
terdiri dari 22 sifat ( wajib, mustahil, jaiz ) Yaitu : qudrat, iradat, ilmu, hayat, qadiran, muriidan, ‘aliiman, hayyan, samii’an, wahdaniyah ( 9 sifat ) mustahilnya 9 sifat, ditambah sifat jaiz no 4 dan 5, serta sifat mustahil bagi sifat jaiznya 2, jadi jumlahnya 22 sifat.

Istighna’ 28 sifat , dibagi jadi 2
1.Sifat kamal artinya sempurna, terdiri dari 12 sifat ( wajib, mustahil, jaiz )
2.Sifat Jamal artinya indah, terdiri dari 16 sifat ( wajib, mustahil, jaiz )

Iftiqar 22 sifat dibagi jadi 2
1.Sifat Jalal, artinya Agung, terdiri dari 10 sifat ( wajib, mustahil, jaiz )
2.Sifat Qohar, artinya Perkasa, terdiri dari 12 sifat ( wajib, mustahil, jaiz )

Istghna’ 28 sifat ditambah iftiqar 22 sifat disebut aqaidul iman 50

Semua sifat diatas terangkum dalam kalimah tauhid :
Laa ilha illa Allah

Laa, mengandung sifat kamal 12
Ilaha, mengandung sifat jamal 16
Illa, mengandung sifat jalal 10
Allahu, mengandung sifat qohar 12
Jumlah 50 sifat.

Huruf kalimah tauhid laa ilaha illa Allah, 12 huruf
Lam, lafad Laa, artinya tidak ada yang lainnya
Alif, lafad laa, mustahil jika Allah ada yang lainnya lagi.
Alif, lafad ilaha, itsbat iradat artinya tetap pada kehendak Allah
Lam, lafad ilaha, Nafi mujtahid nakiroh, artinya hati – hati jangan berharap pada Tuhan yang lain, kecuali Allah.
Ha, lafad ilaha, itsbat ahadiyah, tetap satu/esa dzat Allah
Alif, lafad illa, itsbat hidayah, tetap petunjuk dari Allah
Lam, lafad illa, lam nafi ‘ubudiyah, artinya tidak ada sesembahan selain Allah
Alif, lafad illa, artinya mustahil jika ada sesembahan selain Allah.
Alif, lafad Allahu, itsbat wahdiyah, tetap satu hakiki sifat Allah
Lam awwal, lafad Allah, itsbat ta’dim artinya tetap keagungan milik Allah
Lam tsani, lafad Allah, mustahil jika Allah itu tidak bersifat agung.
Ha, lafad Allah itsbat Hawiyah, artinya tetap keluasan milik Allah

Huruf Lafad Allah itu ada 4, menunjukkan kalau ilmu ada 4 yaitu :
1. Ilmu Syari’at
2. Ilmu Thoriqoh
3. Ilmu haqiqah
4. Ilmu Ma’rifah

Ilmu syari’at
artinya aturan tempatnya di lisan, orangnya harus mempunyai niat, ibadah wudlunya dengan air, sholatnya berdiri, ruku’, sujud, duduk, yang mengerjakan 7 anggota badan

Ilmu Thoriqah
Artinya jalan atau perjalanan, tempatnya di hati, orangnya harus berbuat atau beramal, ibadah wudlunya meninggalkan sifat dengki atau hasud, sholatnya menampakkan sifat belas kasih sesama makhluq, yang mengerjakan hati

Ilmu Haqiqah
Artinya Nyata, tempatnya di ruh atau nyawa, orangnya harus meninggalkan perasaan bisa ( jawa : tinggal rumongso ) ibadah wudlunya harus tinggal takabbur, ujub dan sombong, sholatnya menampakkan sifat sabar yang mengerjalan ruh.

Ilmu ma’rifah
Artinya mengerti / mengetahui, tempatnya ada di rasa ( jawa: pangeroso ) orangnya harus ngerti, ibadah wudlunya tenang ( jawa : anteng ) sholatnya harus sungguh – sungguh ( khusyuk dan mudawamah / terus menerus tanpa mengenal waktu ) yang mengerjakan rasa (jawa: pangeroso )

Macam Syahadat :
1.   Syahadat Mutaawwilah artinya syahadat yang pertama, Syahadatnya Allah sendiri Bunyinya : Innanii anallahu laa ilaha illa ana ( Qs Thoha 14 )
( Sesungguhnya Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku )

2.      Syahadat Mutawashitoh artinya Syahadat yang tengah – tengah, seperti syahadatnya malaikat, para nabi dan rasul dan para orang mukmin semua
yaitu : Asyahadu anlaa ilaha illallah ( QS Al Imron 18 )
dalil : Syahidallahu annahu laa ilha illa huwa wal malaikatu wa ulul ‘ilmi

3.      Syahadat Muta akhirah artinya syahadat yang terakhir yaitu syahadat umum orang islam semua

Syarat orang membaca syahadat harus memenuhi 3 perkara
1)   Nur Hidayah, barang siapa yang mendapat nur hidayah akan dijaga dari sifat musyrik dan perilaku syirik
2)    Nur Inayah, barang siapa yang mendapat nur inayah maka akan dijaga dari dosa besar
3)   Nur kifayah, barang siapa mendapat nur kifayah maka akan dijaga dari bersitan hati yang kotor dan jelek.

Sempurnanya iman harus meninggalkan 4 perkara yaitu :
  1. harus meniadakan pertanyaan kaifa ? ( Bagaimana Allah )
  2. harus meniadakan pertanyaan, kam ? ( berapa Allah )
  3. harus meniadakan pertanyaan ma ta ? ( kapan Allah itu ada )
  4. harus meniadakan pertanyaan ayna ? ( dimana allah )

artinya selama kita masih mempunyai keraguan atas pertanyaan diatas, dan belum mendapat jawaban, maka itu tanda iman kita belum sempurna.

Tanda islam itu ada 4 yaitu :
  1. Mengaku lemah dan fakir dihadapan Allah
  2. Suci lisan dari bohong
  3. Suci badan dari najis
  4. Suci perut dari barang haram

Rusaknya Islam itu ada 4 perkara
  1. Melakukan amal perbuatan tanpa ilmu, tidak tahu wajib, sunnah atau wenang
  2. Mengerti ilmu tapi tidak mau beramal
  3. Tidak mengerti atau tidak tahu, tapi tidak mau bertanya
  4. Menghalang – halangi dan menjelekkan orang yang mencari kebaikan karena Allah

Wallahu ‘alam bishawab.

Hanya untuk referensi :
1)       Untuk aplikasi / penerapan tauhid dalam kehidupan sehari–hari, kitab rujukan al hikam, Syeikh Ibnu Athaillah al iskandari
2)       Untuk pendalaman tauhid, kitab rujukan, Al insan al kamil, syeikh Abdul karim ibnu ibrahim al jilli, kasyful mahjub ( syeikh Al hujwiri ), Jami’ al ushul fi al auliya,
3)       kitab pendukung tassawuf, Risalah al qusyairiyah ( syeikh abul qasim al Qusyairy), Al fath al rabbani, Sirrul al Asraar ( syeikh Abdul Qadir al Jailani ), Minhaj Al ‘Abidin ( Syeikh Imam Al Ghazali ), Minahus Saniyah ( syeikh Abdul wahab asy sya’rani )